Si
Kelingking
Cerita ini terjadi di sebuah pulau terpencil. Pulau yang
terletak di bagian timur Sumatra ini terbagi menjadi dua kabupaten, yaitu
Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Di pulau ini beredar sebuah cerita
rakyat tentang sepasang suami-istri yang hendak membunuh anaknya. Berbagai cara
telah mereka lakukan untuk membunuh anaknya, namun tidak pernah berhasil.
Mengapa sepasang suami-istri itu hendak membunuh anaknya? Kisahnya dapat
Anda simak dalam cerita Si Kelingking berikut ini.
~
Dahulu, di sebuah desa kecil di Pulau Belitung, hidup
sepasang suami-istri yang miskin. Meski demikian, mereka hidup rukun dan
bahagia. Namun, kebahagiaan itu terasa belum lengkap, karena mereka belum
mempunyai anak. Untuk itu, setiap malam kedua orang suami-istri itu senantiasa
berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak.
“Ya,
Tuhan! Karuniakanlah kami seorang anak, walaupun sebesar kelingking!”
Rupanya
doa mereka dikabulkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Tidak beberapa lama kemudian
sang Istri hamil. Sepasang suami-istri itu sangat senang, karena tidak lama
lagi akan mendapatkan seorang anak yang selama ini mereka dambakan.
Purnama silih berganti, sang Istri pun melahirkan. Namun,
mereka sangat terkejut ketika melihat bayi yang keluar dari rahim sang Istri
hanya sebesar kelingking.
“Bang! Kenapa anak kita kecil sekali, Bang?” tanya sang
Istri sedih.
Mendengar pertanyaan istrinya, sang Suami diam seribu bahasa.
Ia tidak percaya apa yang sedang mereka alami. Akhirnya, sang Suami teringat
dengan doa yang sering mereka ucapkan.
“Dik! Ingatkah doa kita selama ini? Bukankah kita selalu
berdoa agar diberikan anak walaupun sebesar kelingking?” tanya sang Suami
mengingatkan istrinya.
“Aku baru teringat. Ternayata Tuhan mengabulkan doa kita
sesuai dengan permintaan kita,” kata sang Istri.
Bayi itu pun mereka pelihara dengan sebaik-baiknya. Waktu
terus berjalan hingga anak itu berusia enam tahun. Namun, tubuh anak itu tetap
sebesar kelingking. Oleh karena itu, mereka memberinya nama Si Kelingking.
Mulanya, sepasang suami-istri itu sayang kepada Si
Kelingking. Tetapi, ada suatu hal yang membuat mereka risih, walaupun tubuhnya
kecil, Si Kelingking banyak sekali porsi makannya. Sekali makan, ia dapat
menghabiskan sedandang nasi, itu pun masih kurang. Setiap hari suami-istri itu bingung,
penghasilan yang mereka peroleh hanya cukup untuk dimakan oleh Si Kelingking
sendiri. Oleh karena sudah tidak kuat lagi menghidupi Si Kelingking, kedua
suami-istri itu bersepakat hendak menyingkirkannya dari kehidupan mereka.
“Bang! Bagaimana caranya kita menyingkirkan Si Kelingking?”
tanya sang Istri bingung.
“Abang punya cara,” jawab sang Suami.
“Apa itu, Bang?” tanya sang Istri penasaran.
“Besok pagi, aku akan mengajaknya ke hutan,” jawab sang
Suami.
“Ke hutan? Untuk apa, Bang?” tanya sang Istri tambah
bingung.
“Aku akan membuangnya di tengah hutan,” jawab sang Suami.
Sang Istri pun setuju. Keesokan harinya, sang Ayah mengajak
Si Kelingking ke hutan untuk mencari kayu. Setibanya di tengah hutan, sang Ayah
segera menebang pohon besar.
“Kelingking! Kamu berdiri di situ saja! Ayah akan menebang
pohon ini!” seru sang Ayah.
“Baik, Ayah!” jawab Si Kelingking menuruti perintah ayahnya.
Namun, tanpa disadari oleh Si Kelingking, ayahnya menebang
pohon itu diarahkan kepadanya. Sang Ayah sengaja melakukan hal itu, agar pohon
itu menimpanya. Beberapa saat kemudian, pohon besar itu pun roboh menimpa Si
Kelingking. Melihat hal itu, sang Ayah bukannya sedih, melainkan gembira.
“Matilah
kau kerdil! Ha... ha... ha...!” seru sang Ayah sambil tertawa terbahak-bahak,
lalu mendekati pohon besar itu.
Setelah
memastikan dan yakin anaknya mati, sang Ayah segera kembali ke rumahnya untuk
menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Mendengar cerita suaminya, sang
Istri pun menjadi senang.
“Bang! Mulai hari ini, hidup kita akan jadi tenang,” kata
sang Istri kepada suaminya.
Namun, menjelang siang hari, tiba-tiba terdengar suara
teriakan dari luar rumah.
“Ayah...! Ayah....! Diletakkan di mana kayu ini?”
“Bang! Sepertinya itu suara Kelingking. Bukankah anak itu
sudah mati?” tanya sang Istri heran.
“Ayo, kita keluar melihatnya!” seru sang Suami penasaran.
Kedua suami-istri sangat terkejut saat melihat Si Kelingking
sedang memikul sebuah pohon besar di pundaknya.
“Ayah! Diletakkan di mana kayu ini?”
tanya Si Kelingking.
“Letakkan
di situ saja!” perintah ayahnya.
Setelah meletakkan kayu itu, Si Kelingking langsung masuk ke
dalam rumah mencari makanan. Oleh karena merasa kelaparan usai memikul pohon
besar, ia pun menghabiskan sedandang nasi yang sudah dimasak ibunya.
Sementara ayah dan ibunya hanya duduk bengong melihat anaknya, dan tidak tahu
apa yang harus mereka perbuat.
Sejak Si Kelingking kembali ke rumah, kehidupan mereka
semakin susah. Semakin hari Si Kelingking semakin banyak makannya. Tidak cukup
jika hanya makan secanting nasi. Melihat keadaan itu, sepasang suami-istri itu
kembali berunding untuk mencari cara menyingkirkan Si Kelingking dari kehidupan
mereka.
“Bang! Apa lagi yang harus kita lakukan?” tanya sang Istri
bingung.
“Besok Abang akan mengajaknya pergi ke gunung untuk
mengambil batu,” jawab sang Suami sambil tersenyum.
“Tenang, Dik! Recanaku ini pasti akan berhasil,” tambah sang
Suami dengan penuh keyakinan.
Keesokan harinya, sang Ayah mengajak Si Kelingking ke gunung
untuk mengambil batu. Sesampainya di kaki gunung, sang ayah berhenti.
“Kelingking! Ayah akan naik ke atas gunung hendak mendongkel
batu-batu itu. Kamu tunggu di sini saja sambil menghadang dan mengumpulkan
batu-batu itu,” perintah sang Ayah.
“Baik, Ayah!” jawab Si Kelingking.
Setelah itu, sang Ayah mendaki gunung itu sambil membawa
sebatang kayu untuk digunakan mendongkel batu. Pada awalnya, ia hanya
mendongkel batu-batu kecil, lalu batu yang agak besar, dan kemudian batu yang
lebih besar lagi. Pada saat mendongkel batu besar itu, ia sengaja
mengarahkannya kepada Si Kelingking. Batu itu pun menindih Si Kelingking.
Melihat hal itu, sang Ayah segera turun dari gunung dan menghampiri Si
Kelingking yang tertindih batu.
“Kelingking! Kelingking! Kelingking!” seru sang Ayah
memanggil anaknya.
Beberapa
kali ia memanggil anaknya, namun tidak mendapat jawaban. Ia yakin bahwa Si
Kelingking telah mati. Dengan perasaan gembira, ia pun segera kembali ke rumah
dan menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Namun, sang Istri tidak langsung
percaya dengan cerita itu.
“Apakah Abang yakin jika anak itu benar-benar sudah mati?”
tanya sang Istri dengan perasaan ragu-ragu.
“Iya, Dik! Abang berhasil menindihnya dengan batu besar,”
jawab sang Suami.
“Ya, syukurlah kalau begitu. Hidup kita akan benar-benar
jadi tenang kembali,” kata sang Istri dengan perasaan lega.
Namun, ketika menjelang sore, tanpa mereka duga sebelumnya,
tiba-tiba terdengar lagi suara dari luar rumah.
“Ayah...! Ayah...! Diletakkan di mana batu ini?” tanya suara
itu.
“Letakkan di situ!” jawab Ayah Si Kelingking tanpa sadar.
Suami-istri itu tersentak kaget saat keluar dari rumah.
Mereka melihat Si Kelingking sedang meletakkan sebuah batu besar.
Setelah itu, seperti biasanya, Si Kelingking langsung masuk ke rumah untuk
mencari makanan, karena kelaparan.
Akhirnya, kedua orang suami-istri itu merasa kasihan kepada
anak mereka, Si Kelingking.
Mereka pun menyadari bahwa walau bagaimana pun Si Kelingking lahir karena
permintaan mereka sendiri. Sejak saat itu, mereka tidak pernah lagi berniat
untuk membunuhnya. Mereka telah menerima kembali Si Kelingking sebagai anggota
keluarga. Sementara Si Kelingking yang memiliki kekuatan lebih dari orang-orang
biasa semakin rajin membantu ayahnya bekerja. Bahkan, semua pekerjaan yang
berat-berat dia yang melakukannya, sehingga pekerjaan ayahnya menjadi lebih
ringan dan kebutuhan hidup mereka dapat terpenuhi
0 komentar:
Posting Komentar