Sang
Penjajah
Suara gaduh terdengar dari dalam kelas 6, ada suara nyanyian, tawa,
terkadang suara teriakan. 3 jam pelajaran terakhir di kelas tersebut kosong,
Pak Amar, guru matematika mereka sedang ada pelatihan di luar daerah.
Sebenarnya, mereka telah diberikan tugas oleh guru lain, namun karena tidak ada
yang mengawasi, mereka bebas di kelas, hanya segelintir murid yang mengerjakan
tugas tersebut. Bahkan di barisan paling belakang, Nardi si ketua kelas, dan
beberapa orang temanya sedang asyik bernyanyi lagu dangdut keras-keras sambil
bergendang di atas meja, mengganggu teman lain yang sedang serius mengerjakan
tugas.
“Hei Nardi, kamu ketua
kelas tapi memimpin yang tidak benar, buat onar saja kerjaannya!”, kata Ulum
mencoba memperingatkan Nardi.
“Ya biar saja, yang
penting senang, hahahahah” balas Nardi dengan nada mengejek.
“Huuuuuu...” serempak
sebagian murid meneriaki Nardi.
Nardi marah, dia menuju
depan kelas lalu berkata, siapa yang berani menyorakinya, berarti berani
melawannya, murid kelas 6 pun diam seketika tanpa suara, sehingga yang
terdengar hanyalah suara jam yang berdetak.
Nardi memang murid yang nakal, sebenarnya,
umurnya bukan seumuran anak SD lagi, teman sebayanya telah menginjak kelas 3
SMP, tapi karena dulu dia sering sakit, jadi beberapa kali tidak naik kelas.
Nardi selalu melakukan pemalakan terhadap beberapa murid di kelasnya, mereka
harus setor uang Rp5000 per minggu kepada Nardi, kelakuan Nardi memang telah
banyak membuat teman-temannya kesal, namun mereka takut akan ancaman Nardi
sehingga tidak berani melapor ke guru. Jika berkelahi, pasti mereka kalah dari
Nardi, maklumlah, dia pernah menjuarai Perlombaan Tae Kwon Do tingkat Kabupaten
saat kelas 5, itu yang membuat teman-temannya memilih menurut saja daripada
harus berurusan dengan Nardi.
Hari itu adalah Jum’at
Bersih, artinya warga di sekolah tersebut melakukan kerja bhakti, tak
terkecuali murid kelas 6. Saat sedang mengepel lantai, tiba-tiba Nardi masuk
kelas dengan sepatu yang kotor seraya berkata siapa yang berani melarangnya,
berarti berani melawannya. Murid kelas 6 hanya bisa menahan amarah, mereka
tidak berani meluapkannya.
“Cukup sudah! Aku yang
berani melawanmu!”, tiba-tiba Fadhil berteriak kepada Nardi.
Sontak seluruh murid
kelas 6 terkejut, selama ini Fadhil dikenal murid yang tenang dan pendiam,
tidak pernah meladeni perbuatan Nardi.
“Kamu selalu menganggap
remeh orang lain, kamu selalu berbuat onar di kelas, kamu tidak pernah mau
sadar, aku akan menghentikan kesombonganmu itu, kutunggu kau di lapangan
setelah pulang sekolah”, tantang Fadhil dengan tenang.
Mereka lebih terkejut
lagi, tak disangka Fadhil berani menantang Nardi, namun mereka juga bersyukur,
akhirnya ada seorang pahlawan yang akan mengalahkan Sang Penjajah, Nardi.
Sepulang sekolah,
Fadhil sudah menuggu di lapangan. Tak selang beberapa lama, Nardi datang
diiringi beberapa orang temannya. Nardi masih sempat menyombongkan diri, dia
merasa akan menang, namum Fadhil tetap diam dan tenang.
“Sudahlah, hari sudah
siang, aku mulai lapar, lebih baik segera kita akhiri ini“, kata Fadhil.
Setelah melakukan
kuda-kuda, Nardi mulai meluncurkan serangan, tendangan cepat kearah kiri kepala
Fadhil, namun Fadhil bisa menghindar dengan tenang. Nardi geram, dia lalu
melakukan tendangan melayang menuju leher Fadhil, kena, seketika Fadhil
tersungkur ke tanah, darah mengalir perlahan dari hidungnya, namun dia bisa
bangkit kembali dengan tenang dan langsung mengambil posisi bertahan. Baru saja
berdiri, Nardi langsung melancarkan pukulan kearah wajah Fadhil, namun bisa
ditahan. Fadhil tetap dalam posisi bertahan, Nardi mulai marah, dia membabi
buta melakukan serangan, baik tendangan maupun pukulan, hebat, semua serangan
Nardi bisa ditepis oleh Fadhil. Nardi mulai kehabisan tenaga, dia kelelahan, saatnya Fadhil membalas, dia
langsung melakukan tendangan combo, kearah kepala Nardi dan dilanjutkan kearah
kakinya. Hanya dengan satu jurus, Nardi tumbang ke tanah, mulutnya mengeluarkan
darah. Dia pasrah, apapun yang dilakukan Fadhil kepadanya akan dia terima.
Namun, Fadhil membiarkannya, ia menang, seketika sorakan terdengar dari murid
kelas 6, mereka senang, mereka telah terbebas, Sang Penjajah telah takluk.
Fadhil lalu mendatangi
Nardi, tak disangka, Fadhil membantu Nardi berdiri sambil meminta maaf, Nardi
hanya diam, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Fadhil memang anak yang
pendiam di kelas, setelah didesak dan ditanya oleh teman-teman bagaimana cara
mengalahkan Nardi, Fadhil menjawab, kunci utama adalah tenang dan konsentrasi
penuh pada lawan, jangan tanggapi kesombongan lawan, karena itu merupakan
senjata lawan untuk menjatuhkan mental kita. Tidak hanya itu, ternyata Fadhil
rajin berlatih pada pamannya yang merupakan mantan Atlet Tae Kwon Do kelas
dunia, teman-teman Fadhil tidak menyangka, karena Fadhil tidak pernah sombong.
Di rumah, Nardi
merenungkan kata-kata Fadhil, dia menghubungkannya dengan pertarungan tadi dan
perbuatannya selama ini, Nardi sadar, dia lalu menangis penuh penyesalan, dia
berjanji, mulai besok, dia akan berubah dan meminta maaf kepada semua temannya.
Dia telah sadar, dia memang Sang Penjajah.
0 komentar:
Posting Komentar