Senin, 13 Juni 2016

Sang Penjajah-Cerpen Anak



Sang Penjajah
             Suara gaduh terdengar dari dalam kelas 6, ada suara nyanyian, tawa, terkadang suara teriakan. 3 jam pelajaran terakhir di kelas tersebut kosong, Pak Amar, guru matematika mereka sedang ada pelatihan di luar daerah. Sebenarnya, mereka telah diberikan tugas oleh guru lain, namun karena tidak ada yang mengawasi, mereka bebas di kelas, hanya segelintir murid yang mengerjakan tugas tersebut. Bahkan di barisan paling belakang, Nardi si ketua kelas, dan beberapa orang temanya sedang asyik bernyanyi lagu dangdut keras-keras sambil bergendang di atas meja, mengganggu teman lain yang sedang serius mengerjakan tugas.
               “Hei Nardi, kamu ketua kelas tapi memimpin yang tidak benar, buat onar saja kerjaannya!”, kata Ulum mencoba memperingatkan Nardi.
               “Ya biar saja, yang penting senang, hahahahah” balas Nardi dengan nada mengejek.
               “Huuuuuu...” serempak sebagian murid meneriaki Nardi.
               Nardi marah, dia menuju depan kelas lalu berkata, siapa yang berani menyorakinya, berarti berani melawannya, murid kelas 6 pun diam seketika tanpa suara, sehingga yang terdengar hanyalah suara jam yang berdetak.
                Nardi memang murid yang nakal, sebenarnya, umurnya bukan seumuran anak SD lagi, teman sebayanya telah menginjak kelas 3 SMP, tapi karena dulu dia sering sakit, jadi beberapa kali tidak naik kelas. Nardi selalu melakukan pemalakan terhadap beberapa murid di kelasnya, mereka harus setor uang Rp5000 per minggu kepada Nardi, kelakuan Nardi memang telah banyak membuat teman-temannya kesal, namun mereka takut akan ancaman Nardi sehingga tidak berani melapor ke guru. Jika berkelahi, pasti mereka kalah dari Nardi, maklumlah, dia pernah menjuarai Perlombaan Tae Kwon Do tingkat Kabupaten saat kelas 5, itu yang membuat teman-temannya memilih menurut saja daripada harus berurusan dengan Nardi.
               Hari itu adalah Jum’at Bersih, artinya warga di sekolah tersebut melakukan kerja bhakti, tak terkecuali murid kelas 6. Saat sedang mengepel lantai, tiba-tiba Nardi masuk kelas dengan sepatu yang kotor seraya berkata siapa yang berani melarangnya, berarti berani melawannya. Murid kelas 6 hanya bisa menahan amarah, mereka tidak berani meluapkannya.
               “Cukup sudah! Aku yang berani melawanmu!”, tiba-tiba Fadhil berteriak kepada Nardi.
               Sontak seluruh murid kelas 6 terkejut, selama ini Fadhil dikenal murid yang tenang dan pendiam, tidak pernah meladeni perbuatan Nardi.
               “Kamu selalu menganggap remeh orang lain, kamu selalu berbuat onar di kelas, kamu tidak pernah mau sadar, aku akan menghentikan kesombonganmu itu, kutunggu kau di lapangan setelah pulang sekolah”, tantang Fadhil dengan tenang.
               Mereka lebih terkejut lagi, tak disangka Fadhil berani menantang Nardi, namun mereka juga bersyukur, akhirnya ada seorang pahlawan yang akan mengalahkan Sang Penjajah, Nardi.
               Sepulang sekolah, Fadhil sudah menuggu di lapangan. Tak selang beberapa lama, Nardi datang diiringi beberapa orang temannya. Nardi masih sempat menyombongkan diri, dia merasa akan menang, namum Fadhil tetap diam dan tenang.
               “Sudahlah, hari sudah siang, aku mulai lapar, lebih baik segera kita akhiri ini“, kata Fadhil.
               Setelah melakukan kuda-kuda, Nardi mulai meluncurkan serangan, tendangan cepat kearah kiri kepala Fadhil, namun Fadhil bisa menghindar dengan tenang. Nardi geram, dia lalu melakukan tendangan melayang menuju leher Fadhil, kena, seketika Fadhil tersungkur ke tanah, darah mengalir perlahan dari hidungnya, namun dia bisa bangkit kembali dengan tenang dan langsung mengambil posisi bertahan. Baru saja berdiri, Nardi langsung melancarkan pukulan kearah wajah Fadhil, namun bisa ditahan. Fadhil tetap dalam posisi bertahan, Nardi mulai marah, dia membabi buta melakukan serangan, baik tendangan maupun pukulan, hebat, semua serangan Nardi bisa ditepis oleh Fadhil. Nardi mulai kehabisan tenaga, dia kelelahan, saatnya Fadhil membalas, dia langsung melakukan tendangan combo, kearah kepala Nardi dan dilanjutkan kearah kakinya. Hanya dengan satu jurus, Nardi tumbang ke tanah, mulutnya mengeluarkan darah. Dia pasrah, apapun yang dilakukan Fadhil kepadanya akan dia terima. Namun, Fadhil membiarkannya, ia menang, seketika sorakan terdengar dari murid kelas 6, mereka senang, mereka telah terbebas, Sang Penjajah telah takluk.
               Fadhil lalu mendatangi Nardi, tak disangka, Fadhil membantu Nardi berdiri sambil meminta maaf, Nardi hanya diam, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
               Fadhil memang anak yang pendiam di kelas, setelah didesak dan ditanya oleh teman-teman bagaimana cara mengalahkan Nardi, Fadhil menjawab, kunci utama adalah tenang dan konsentrasi penuh pada lawan, jangan tanggapi kesombongan lawan, karena itu merupakan senjata lawan untuk menjatuhkan mental kita. Tidak hanya itu, ternyata Fadhil rajin berlatih pada pamannya yang merupakan mantan Atlet Tae Kwon Do kelas dunia, teman-teman Fadhil tidak menyangka, karena Fadhil tidak pernah sombong.
               Di rumah, Nardi merenungkan kata-kata Fadhil, dia menghubungkannya dengan pertarungan tadi dan perbuatannya selama ini, Nardi sadar, dia lalu menangis penuh penyesalan, dia berjanji, mulai besok, dia akan berubah dan meminta maaf kepada semua temannya. Dia telah sadar, dia memang Sang Penjajah.

0 komentar:

Posting Komentar