Misteri Sekolah
Tua
Kata menyeramkan mungkin tepat untuk
menggambarkan suasana di sebuah sekolah yang berjarak 100 meter dari masjid.
Sekolah itu memang sudah tidak dipakai sejak 7 tahun yang lalu karena tragedi
kebakaran yang menewaskan seluruh warga sekolah di sekolah itu. Telah lama
dilakukan penyelidikan penyebab kebakaran sekolah ini, namun sampai sampai
detik ini, belum diketahui secara pasti penyebab kebakaran yang melanda sekolah
favorit tersebut, dan akhirnya, sekolah itu dicap oleh masyarakat sebagai
sekolah angker, karena sering dijadikan tempat bersemedi untuk para dukun atau
paranormal setempat, ada yang mengatakan, bahwa arwah para siswa atau guru
masih bergentayangan di sekolah tersebut, bahkan, salah seorang warga setempat
mengaku bahwa dia pernah melihat penampakan seorang guru bertubuh hangus, ada
bermacam-macam perkataan warga yang berbau mistis tentang sekolah itu, namun
sulit dibuktikan kebenarannya.
Malam itu, Iqbal, Ardi, dan Rifqi baru saja pulang dari
masjid usai melaksanakan Sholat Isya berjama’ah. Di tengah perjalanan, Iqbal
melontarkan pertanyaan kepada Ardi.
“Di, apakah kamu sudah mengerjakan PR Agama untuk besok?,”
tanya Iqbal kepada Ardi.
“Sudah dong,” jawab Ardi.
Lalu, suasana pun kembali hening, tidak terasa, mereka
sudah berhadapan dengan sekolah yang
sedang dibicarakan warga. Di saat akan lewat, tiba-tiba Rifqi mengajak Iqbal
dan Ardi untuk melewati jalan lain karena dia takut melewati sekolah tua itu.
Namun, Iqbal dan Ardi menolak mengambil jalan lain karena, jika lewat jalan
lain, berarti mereka harus memutar, dan jaraknya pasti lebih jauh untuk sampai
ke rumah, lalu dengan terpaksa, akhirnya Rifqi menurut saja, dan mereka pun
melewati sekolah tua tersebut.
Ketika mereka sedang berjalan,
tiba-tiba di dekat
gerbang sekolah tua itu ada yang bergerak. Kemudian…
“Aaaah!!,” teriak Rifqi, serentak Iqbal dan Ardi terkejut.
“Ada apa, Qi?!,” kata Ardi.
“Itu, itu ada yang gerak-gerak berwarna hitam, cepat
sekali,” kata Rifqi masih ketakutan.
“Di sebelah mana?,” sahut Iqbal.
Makhluk yang dilihat Rifqi berada di dekat gerbang
sekolah tua tersebut, lalu, Ardi pun memberanikan diri mendekati makhluk itu
untuk memeriksanya. Dan ternyata, makhuk yang dilihat Rifqi tadi hanyalah
seekor kucing.
“Hah? Ini kan kucing milik Beni, kenapa bisa ada di
sini?,” kata Ardi.
Ternyata, kucing tersebut milik Beni, teman sekelas Iqbal,
Ardi, dan Rifqi, Beni pernah menceritakan bahwa kucingnya selalu bersama Beni jika
sedang berada di luar rumah karena kucingnya takut keluar rumah sendiri, tetapi,
mengapa saat ini kucing Beni sendirian?, pertanyaan itulah yang ada di benak Iqbal,
Ardi, dan Rifqi.
“Kalau begitu, biar aku periksa ke dalam, siapa tahu di
dalam ada Beni,” kata Ardi dengan berani.
“Sudah, jangan diperiksa, kita pulang saja, malam semakin
larut, nanti orang tua kita khawatir,” kata Iqbal. Lalu, mereka pun melanjutkan
perjalanan pulang.
Matahari telah terbangun dari tidurnya, Iqbal, Ardi, dan
Rifqi bersama-sama berangkat ke sekolah, mereka terlihat sangat bersemangat,
sekolah mereka berhadapan dengan masjid tempat mereka biasa melakukan sholat
berjama’ah, artinya, mereka melalui jalan yang sama seperti yang mereka lalui
semalam dan akan melewati sekolah tua itu lagi, Ardi berjalan paling depan,
saat akan melewati sekolah tua tersebut, tiba-tiba Ardi berhenti sambil matanya
seperti memperhatikan sesuatu di dekat gerbang sekolah tua tersebut.
Ternyata yang dilihat Ardi di dakat gerbang sekolah tua
itu adalah sebuah sandal, tetapi mereka penasaran, milik siapa sandal itu?
“ Biar aku periksa sandal itu,” kata Iqbal, namun, pada
saat Iqbal ingin pergi memeriksa sandal itu, tiba-tiba tangannya ditarik oleh
Rifqi, Iqbal pun bingung mengapa tangannya ditarik oleh Rifqi, lalu Rifqi
mengatakan bahwa jangan diperiksa sandal itu apalagi sampai dipegang, karena
menurut Rifqi, sandal itu milik hantu yang bergentayangan di sekolah tua
tersebut.
“Hahaha, dasar Rifqi, mana ada hantu yang pakai sandal,
hantu modern tuh kalau pakai sandal segala, hahaha,” balas Iqbal sambil
tertawa.
“Huss, jangan keras-keras, nanti hantunya marah,” kata
Rifqi.
“Ah Rifqi, ada-ada saja,” kata Ardi.
“Sudahlah, biar aku periksa sandal itu,” sahut Iqbal.
Lalu Iqbal pergi mendekati sandal itu untuk memeriksanya, dan ternyata, sandal
itu milik Beni, setelah itu Iqbal membawa sandal yang baru saja ia periksa dan
menyerahkannya kepada kepada Ardi.
Rasa curiga mulai hinggap di kepala Iqbal, Ardi,
dan Rifqi, semalam mereka menemukan kucing milik Beni, sekarang, mereka
menemukan sandalnya, dan yang lebih aneh, mereka menemukan kucing dan sandal Beni
di tempat yang sama.
“Mungkin kucing, sandal, sekolah itu, dan si Beni ada
hubunganya,?” Kata Iqbal.
Setelah berpikir beberapa saat, mereka teringat akan
sekolah, kemudian mereka pun melanjutkan perjalan ke sekolah.
Di kelas, jam pertama adalah pelajaran Matematika, saat
itu ada ulangan harian mendadak, seluruh siswa kelas 5 mengerjakan ulangan
dengan sungguh-sungguh walau ada rasa keberatan dalam hati mereka, saat ulangan
sedang berlangsung dengan tenang, tiba-tiba.
“Brrakk!,” ternyata itu suara Bu Anna yang memukul meja,
sontak seluruh siswa kelas 5 tersebut terkejut.
“Beni!,” teriak Bu Anna
kepada Beni, ternyata Beni tidur saat ulangan sedang berlangsung, sontak
Beni terbangun karena terkejut.
“Ada apa, Bu?,” kata Beni.
“Kamu, ini tidak sopan sekali!, tidur dalam kelas,
berdiri di depan!,” teriak Bu Anna kepada Beni, seluruh siswa dalam kelas itu
pun menjadi tegang.
“Ayo cepat, berdiri di depan!,” kata Bu Anna penuh amarah,
lalu pun Beni mengangkat tubuhnya dari kursi dan melangkahkan kakinya menuju
depan kelas.
Setelah Beni berdiri di depan kelas, Bu Anna menjelasakan
kepada seluruh siswa kelas 5 bahwa , Beni merupakan contoh siswa yang tidak
patut untuk ditiru, tidur di dalam kelas merupakan perbuatan yang tidak sopan,
karena tidak menghormati atau menghargai guru yang berada di depan, bukan hanya
tidur, jika ada yang berbicara saat guru sedang menjelasakan atau
berjalan-jalan di dalam kelas, itu sama saja tidak menghormati atau menghargai
guru tersebut.
“Kalian, lanjutkan saja ulangannya,” kata Bu Anna.
Suasana pun menjadi tenang kembali.
Saat jam istirahat, Iqbal, Ardi, dan Rifqi, duduk-duduk
di kursi dekat taman sekolah. Iqbal menanyakan bagaimana ulangan matematika
tadi kepada Ardi, ternyata, Ardi bisa menjawab semua soal dengan lancar. Tetapi
tidak demikian dengan Iqbal dan Rifqi, mereka bingung di nomor 15, lalu Ardi
menawarkan kepada Iqbal dan Rifqi untuk belajar bersama sesudah Sholat Ashar,
Iqbal dan Rifqi pun menyetujuinya.
Kriiing, bel masuk berbunyi, semua siswa sekolah tersebut
berbondong-bondong masuk ke kelas masing-masing, seperti kambing-kambing yang
masuk ke kandangnya.
Saat bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa sekolah itu
keluar dari kelas masing-masing, tidak ketinggalan dengan Iqbal, Ardi, dan
Rifqi, namun sepertinya ada yang kurang, ya, memang ada yang kurang, yaitu
Beni, ia tidak terlihat saat pulang sekolah, padahal biasanya, jika bel pulang
sekolah dibunyiakan, ia yang paling duluan keluar, ternyata, Beni ada di ruang
guru, sepertinya, Bu Anna yang membawa Beni ke ruang guru, mungkin untuk
membahas kejadian tadi, yaitu Beni tidur di dalam kelas saat ulangan sedang berlangsung.
Di tengah perjalanan, “Qi, apa kamu merasakan hal yang
aneh terhadap Beni?,” tanya Iqbal kepada Rifqi.
“Tidak, memangnya aneh kenapa?,” jawab Rifqi.
“Kalau dilihat-lihat, sepertinya Beni akhir-akhir ini
sering mengantuk di kelas,” kata Iqbal.
“Benar juga, dan ini menjadi semakin aneh saja, Beni
mengantuk di dalam kelas artinya dia kurang tidur atau kelelahan, tapi, kata
ibunya, dia jarang keluar rumah pada siang hari, jadi kapan dia keluar rumah
dan beraktifitas sehingga dia menjadi kurang tidur dan kelelahan?,” tambah
Ardi.
“Mungkin malam hari,” sahut Rifqi.
“Bisa jadi, dan sepertinya antara Beni, sandalnya,
kucingnya, dan sekolah tua itu mempunyai hubungan,” tambah Ardi lagi.
Tidak terasa
mereka telah sampai di persimpangan, dan mereka harus berpisah di sini,
Ardi belok ke arah kanan, sedangkan Iqbal dan Rifqi belok ke arah kiri,
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Iqbal dan
Rifqi pergi ke rumah Ardi untuk belajar bersama, mereka pergi bersama-sama
dengan berjalan kaki, sampainya di rumah Ardi, terlebih dahulu Iqbal dan Rifqi
mengucapakan salam sebelum masuk ke rumah Ardi,
“Assallamu’alaikum,” kata Iqbal dan Rifqi bersamaan.
“Wa’alaikumsallam, eh, temanya Ardi ya? Mari masuk,
kalian sudah ditunggu Ardi di teras belakang,” kata ibu Ardi dengan penuh
keramahan.
“Oh, terima kasih bu,” kata Iqbal dan Rifqi kompak.
Lalu Iqbal dan Rifqi pun masuk ke dalam menuju teras
belakang, dan benar saja, Ardi sudah menuggu di sana. Mereka pun belajar
bersama, Ardi bertindak sebagai guru yang mengajari Iqbal dan Rifqi, agak lama
mereka belajar, tidak terasa, langit mulai memerah, pertanda hari sudah sangat
sore, mereka pun menyudahi belajar kelompoknya.
Saat, matahari sudah dekat dengan kaki langit, Iqbal dan
Rifqi pamit untuk pulang ke rumah. Namun sebelum Iqbal dan Rifqi pulang, Ardi
mengingatkan kepada mereka untuk datang lagi ke rumah Ardi.
Setelah itu, Iqbal dan Rifqi pun pulang ke rumah
masing-masing, matahari perlahan tenggelam ditelan bumi, burung-burung pulang
menuju sarangnya, serangga-serangga mulai bernyanyi, pertanda siang akan segera
ditelan malam.
Keesokan harinya, matahari baru menampakkan setengah
tubuhnya, tetapi, Iqbal dan Rifqi sudah datang di rumah Ardi. Sebelum masuk ke
rumah Ardi, seperti biasa, tidak lupa Iqbal dan Rifqi mengucapkan salam pada
pemilik rumah, mereka pun dipersilahkan masuk, di ruang tengah, Ardi sudah
menunggu Iqbal dan Rifqi, melihat kedatangan mereka, Ardi lalu mengajak Iqbal
dan Rifqi untuk masuk ke kamarnya.
“Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan kepada kami?,”
kata Rifqi membuka pembicaraan.
“Sebenarnya ini masalah sekolah tua itu, dan aku rasa
sepertinya sekolah itu memang ada hubungannya dengan Beni, dari kejadian- kejadian
yang kita alami beberapa waktu lalu, aku sangat yakin, bahwa sekolah itu dengan
si Beni ada hubungannya, tapi aku belum bisa memuaskan dugaanku,” kata Ardi.
“Lantas, apa yang harus kita lakukan?,” tanya Rifqi.
Mereka pun memikirkan bagaimana caranya untuk memuaskan
rasa curiga mereka, masing-masing dari mereka mulai berfikir, lalu muncul ide
untuk melakukan penyelidikan terhadap sekolah tua tersebut. Namun, Rifqi
menolak karena dia takut, lalu, Ardi dan Iqbal mulai membujuk Rifqi untuk ikut
dalam melakukan penyelidikan, setelah dibujuk beberapa kali, akhirnya Rifqi mau
ikut walaupun ada rasa keberatan dalam dirinya.
Mereka pun mulai menyusun strategi, layaknya tentara yang
siap berperang, cukup lama mereka berembuk, tidak terasa, matahari telah berada
dipuncaknya, setelah semuanya setuju akan rencana yang dibuat, Iqbal dan Rifqi
pun pamit untuk pulang.
Dan pada malam yang sudah ditentukan, Iqbal, Ardi, dan
Rifqi sudah berkumpul di depan sekolah tua tersebut, masing-masing dari mereka
sudah membawa barang-barang yang sudah disepakati. Mereka pun mulai memasuki
halaman sekolah angker itu, tidak terlihat keanehan apa-apa di halaman sekolah,
lalu mereka mulai masuk ke dalam ruang sekolah, pada saat pintu sudah terbuka,
tiba-tiba.
“Aaaah, haaantuuuuuu,” teriak Iqbal, Ardi, dan Rifqi
bersamaan.
Ternyata tepat di depan pintu yang mereka buka terdapat
pocong bergelantungan. Iqbal dan Rifqi langsung berlari menuju halaman sekolah
meninggalkan Ardi yang terjatuh tepat di hadapan pocong yang bergelantungan
tersebut, namun ternyata, Ardi bisa berdiri dengan tenang, bahkan dia memegang
pocong yang bergelantungan tersebut, dan, pocong yang membuat mereka takut tadi
ternyata hanya sebuah boneka. Lalu Ardi memanggil Iqbal dan Rifqi yang sudah
berada di halaman sekolah karena ketekutan.
Iqbal dan
Rifqi pun mendekat ke Ardi, ternyata memang benar, pocong yang bergelantungan
tersebut ternyta hanya sebuah boneka, Ardi pun mengambil foto boneka itu
menggunakan kamera digital yang ia bawa, setelah itu, mereka melanjutkan masuk
ke dalam, tetapi, saat mereka sudah berada tepat di tengah-tengah ruangan,
tiba-tiba terdengar suara menyerupai hantu.
“Hantu, Di,” kata Rifqi merinding sambil mencengkaram
kuat bahu Ardi.
“Diam, kamu dengarakan baik-baik suara itu, seperti suara
rekaman,” kata Ardi dengan tenang.
“Benar, Di, aku juga merasakan hal yang sama,” ujar
Iqbal.
Lalu suara itu tidak terdengar lagi, mereka pun
melanjutkan penyelidikan, mereka naik ke lantai dua, di sana, Rifqi menemukan
jejak kaki yang masih baru mengarah ke sebuah ruangan, di sudut ruangan, Ardi
juga menemukan empat buah boneka berwujud hantu, tidak ketinggalan dengan
Iqbal, dia mendengar suara tawa anak-anak di ruangan tempat berakhirnya jejak
kaki yang ditemukan oleh Rifqi.
“Di, aku menemukan jejak kaki yang mengarah ke sebuah
ruangan,” kata Rifqi pada Ardi.
“Aku juga mendengar suara tawa anak-anak yang sepertinya itu
suara Beni dan anak-anak lain, suara itu berasal dari tempat berakhirnya jejak kaki
yang ditemukan oleh Rifqi,” kata Iqbal menambahi.
“Melihat semua benda-benda yang kita temukan, dugaan
semakin kuat bahwa Beni dibalik semua ini,” kata Ardi berapi-api.
“Baiklah, daripada penasaran, kita dobrak saja pintu
ruangan yang menjadi sumber suara tawa itu,” kata Rifqi.
Lalu, Brak!!, pintu pun terbuka, disana terdapat
Beni dengan anak-anak lain, sontak Beni pun terkejut dan ingin melarikan diri,
namun sayang, Ardi telah lebih dahulu mengambil foto wajahnya untuk dijadikan
barang bukti, sedangkan anak-anak yang lain dibiarkan lari, Iqbal, Ardi, dan
Rifqi pun keluar sekolah itu dengan sangat lega.
Keesokan harinya, Iqbal, Ardi, dan Rifqi pergi mendatangi
Kantor Kelurahan, mereka bermaksud melaporkan kejadian yang sebenarnya terjadi
tentang sekolah itu, tidak lupa mereka membawa beberapa barang bukti, Orang Tua
Beni dan Beni pun dipanggil ke Kantor Kelurahan untuk mendapat peringatan dan
hukuman karena telah meresahkan banyak warga dan telah menyebarkan berita yang
tidak benar tentang sekolah tua itu, dan besoknya, Iqbal, Ardi, dan Rifqi
mendapat hadiah yang cukup besar dari Kelurahan karena telah menguak misteri
tentang sekolah tua tersebut, akhirnya, seluruh warga di desa tersebut hidup
dengan aman karena misteri tentang sekolah tua itu akhirnya sudah terbongkar
dan mereka juga lega karena dugaan mereka tentang arwah yang bergentayangan di
sekolah itu ternyata tidak benar.
0 komentar:
Posting Komentar