Selasa, 14 Juni 2016

Si Kelingking-Dongeng



Si Kelingking



 


Cerita ini terjadi di sebuah pulau terpencil. Pulau yang terletak di bagian timur Sumatra ini terbagi menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Di pulau ini beredar sebuah cerita rakyat tentang sepasang suami-istri yang hendak membunuh anaknya. Berbagai cara telah mereka lakukan untuk membunuh anaknya, namun tidak pernah berhasil. Mengapa sepasang suami-istri itu hendak membunuh anaknya? Kisahnya dapat  Anda simak dalam cerita Si Kelingking berikut ini.
~


Dahulu, di sebuah desa kecil di Pulau Belitung, hidup sepasang suami-istri yang miskin. Meski demikian, mereka hidup rukun dan bahagia. Namun, kebahagiaan itu terasa belum lengkap, karena mereka belum mempunyai anak. Untuk itu, setiap malam kedua orang suami-istri itu senantiasa berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak.
“Ya, Tuhan! Karuniakanlah kami seorang anak, walaupun sebesar kelingking!”
Rupanya doa mereka dikabulkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Tidak beberapa lama kemudian sang Istri hamil. Sepasang suami-istri itu sangat senang, karena tidak lama lagi akan mendapatkan seorang anak yang selama ini mereka dambakan.

Purnama silih berganti, sang Istri pun melahirkan. Namun, mereka sangat terkejut ketika melihat bayi yang keluar dari rahim sang Istri hanya sebesar kelingking.
“Bang! Kenapa anak kita kecil sekali, Bang?” tanya sang Istri sedih.
Mendengar pertanyaan istrinya, sang Suami diam seribu bahasa. Ia tidak percaya apa yang sedang mereka alami. Akhirnya, sang Suami teringat dengan doa yang sering mereka ucapkan.
“Dik! Ingatkah doa kita selama ini? Bukankah kita selalu berdoa agar diberikan anak walaupun sebesar kelingking?” tanya sang Suami mengingatkan istrinya.
“Aku baru teringat. Ternayata Tuhan mengabulkan doa kita sesuai dengan permintaan kita,” kata sang Istri.

Bayi itu pun mereka pelihara dengan sebaik-baiknya. Waktu terus berjalan hingga anak itu berusia enam tahun. Namun, tubuh anak itu tetap sebesar kelingking. Oleh karena itu, mereka memberinya nama Si Kelingking.
Mulanya, sepasang suami-istri itu sayang kepada Si Kelingking. Tetapi, ada suatu hal yang membuat mereka risih, walaupun tubuhnya kecil, Si Kelingking banyak sekali porsi makannya. Sekali makan, ia dapat menghabiskan sedandang nasi, itu pun masih kurang. Setiap hari suami-istri itu bingung, penghasilan yang mereka peroleh hanya cukup untuk dimakan oleh Si Kelingking sendiri. Oleh karena sudah tidak kuat lagi menghidupi Si Kelingking, kedua suami-istri itu bersepakat hendak menyingkirkannya dari kehidupan mereka.

“Bang! Bagaimana caranya kita menyingkirkan Si Kelingking?” tanya sang Istri bingung.
“Abang punya cara,” jawab sang Suami.
“Apa itu, Bang?” tanya sang Istri penasaran.
“Besok pagi, aku akan mengajaknya ke hutan,” jawab sang Suami.
“Ke hutan? Untuk apa, Bang?” tanya sang Istri tambah bingung.
“Aku akan membuangnya di tengah hutan,” jawab sang Suami.
Sang Istri pun setuju. Keesokan harinya, sang Ayah mengajak Si Kelingking ke hutan untuk mencari kayu. Setibanya di tengah hutan, sang Ayah segera menebang pohon besar.
“Kelingking! Kamu berdiri di situ saja! Ayah akan menebang pohon ini!” seru sang Ayah.
“Baik, Ayah!” jawab Si Kelingking menuruti perintah ayahnya.

Namun, tanpa disadari oleh Si Kelingking, ayahnya menebang pohon itu diarahkan kepadanya. Sang Ayah sengaja melakukan hal itu, agar pohon itu menimpanya. Beberapa saat kemudian, pohon besar itu pun roboh menimpa Si Kelingking. Melihat hal itu, sang Ayah bukannya sedih, melainkan gembira.
“Matilah kau kerdil! Ha... ha... ha...!” seru sang Ayah sambil tertawa terbahak-bahak, lalu mendekati pohon besar itu.
Setelah memastikan dan yakin anaknya mati, sang Ayah segera kembali ke rumahnya untuk menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Mendengar cerita suaminya, sang Istri pun menjadi senang.

“Bang! Mulai hari ini, hidup kita akan jadi tenang,” kata sang Istri kepada suaminya.
Namun, menjelang siang hari, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar rumah.
“Ayah...! Ayah....! Diletakkan di mana kayu ini?”
“Bang! Sepertinya itu suara Kelingking. Bukankah anak itu sudah mati?” tanya sang Istri heran.
“Ayo, kita keluar melihatnya!” seru sang Suami penasaran.
Kedua suami-istri sangat terkejut saat melihat Si Kelingking sedang memikul sebuah pohon besar di pundaknya.
“Ayah! Diletakkan di mana kayu ini?” tanya Si Kelingking.
“Letakkan di situ saja!” perintah ayahnya.

Setelah meletakkan kayu itu, Si Kelingking langsung masuk ke dalam rumah mencari makanan. Oleh karena merasa kelaparan usai memikul pohon besar, ia pun menghabiskan sedandang nasi  yang sudah dimasak ibunya. Sementara ayah dan ibunya hanya duduk bengong melihat anaknya, dan tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

Sejak Si Kelingking kembali ke rumah, kehidupan mereka semakin susah. Semakin hari Si Kelingking semakin banyak makannya. Tidak cukup jika hanya makan secanting nasi. Melihat keadaan itu, sepasang suami-istri itu kembali berunding untuk mencari cara menyingkirkan Si Kelingking dari kehidupan mereka.

“Bang! Apa lagi yang harus kita lakukan?” tanya sang Istri bingung.
“Besok Abang akan mengajaknya pergi ke gunung untuk mengambil batu,” jawab sang Suami sambil tersenyum.
“Tenang, Dik! Recanaku ini pasti akan berhasil,” tambah sang Suami dengan penuh keyakinan.

Keesokan harinya, sang Ayah mengajak Si Kelingking ke gunung untuk mengambil batu. Sesampainya di kaki gunung, sang ayah berhenti.
“Kelingking! Ayah akan naik ke atas gunung hendak mendongkel batu-batu itu. Kamu tunggu di sini saja sambil menghadang dan mengumpulkan batu-batu itu,” perintah sang Ayah.
“Baik, Ayah!” jawab Si Kelingking.

Setelah itu, sang Ayah mendaki gunung itu sambil membawa sebatang kayu untuk digunakan mendongkel batu. Pada awalnya, ia hanya mendongkel batu-batu kecil, lalu batu yang agak besar, dan kemudian batu yang lebih besar lagi. Pada saat mendongkel batu besar itu, ia sengaja mengarahkannya kepada Si Kelingking. Batu itu pun menindih Si Kelingking. Melihat hal itu, sang Ayah segera turun dari gunung dan menghampiri Si Kelingking yang tertindih batu.

“Kelingking! Kelingking! Kelingking!” seru sang Ayah memanggil anaknya.
Beberapa kali ia memanggil anaknya, namun tidak mendapat jawaban. Ia yakin bahwa Si Kelingking telah mati. Dengan perasaan gembira, ia pun segera kembali ke rumah dan menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Namun, sang Istri tidak langsung percaya dengan cerita itu.

“Apakah Abang yakin jika anak itu benar-benar sudah mati?” tanya sang Istri dengan perasaan ragu-ragu.
“Iya, Dik! Abang berhasil menindihnya dengan batu besar,” jawab sang Suami.
“Ya, syukurlah kalau begitu. Hidup kita akan benar-benar jadi tenang kembali,” kata sang Istri dengan perasaan lega.
Namun, ketika menjelang sore, tanpa mereka duga sebelumnya, tiba-tiba terdengar lagi suara dari luar rumah.
“Ayah...! Ayah...! Diletakkan di mana batu ini?” tanya suara itu.
“Letakkan di situ!” jawab Ayah Si Kelingking tanpa sadar.
Suami-istri itu tersentak kaget saat keluar dari rumah. Mereka melihat Si Kelingking sedang meletakkan sebuah batu besar. Setelah itu, seperti biasanya, Si Kelingking langsung masuk ke rumah untuk mencari makanan, karena kelaparan.

Akhirnya, kedua orang suami-istri itu merasa kasihan kepada anak mereka, Si Kelingking. Mereka pun menyadari bahwa walau bagaimana pun Si Kelingking lahir karena permintaan mereka sendiri. Sejak saat itu, mereka tidak pernah lagi berniat untuk membunuhnya. Mereka telah menerima kembali Si Kelingking sebagai anggota keluarga. Sementara Si Kelingking yang memiliki kekuatan lebih dari orang-orang biasa semakin rajin membantu ayahnya bekerja. Bahkan, semua pekerjaan yang berat-berat dia yang melakukannya, sehingga pekerjaan ayahnya menjadi lebih ringan dan kebutuhan hidup mereka dapat terpenuhi



Senin, 13 Juni 2016

Misteri Sekolah Tua-Cerpen Anak


Misteri Sekolah Tua

          Kata menyeramkan mungkin tepat untuk menggambarkan suasana di sebuah sekolah yang berjarak 100 meter dari masjid. Sekolah itu memang sudah tidak dipakai sejak 7 tahun yang lalu karena tragedi kebakaran yang menewaskan seluruh warga sekolah di sekolah itu. Telah lama dilakukan penyelidikan penyebab kebakaran sekolah ini, namun sampai sampai detik ini, belum diketahui secara pasti penyebab kebakaran yang melanda sekolah favorit tersebut, dan akhirnya, sekolah itu dicap oleh masyarakat sebagai sekolah angker, karena sering dijadikan tempat bersemedi untuk para dukun atau paranormal setempat, ada yang mengatakan, bahwa arwah para siswa atau guru masih bergentayangan di sekolah tersebut, bahkan, salah seorang warga setempat mengaku bahwa dia pernah melihat penampakan seorang guru bertubuh hangus, ada bermacam-macam perkataan warga yang berbau mistis tentang sekolah itu, namun sulit dibuktikan kebenarannya.
            Malam itu, Iqbal, Ardi, dan Rifqi baru saja pulang dari masjid usai melaksanakan Sholat Isya berjama’ah. Di tengah perjalanan, Iqbal melontarkan pertanyaan kepada Ardi.
            “Di, apakah kamu sudah mengerjakan PR Agama untuk besok?,” tanya Iqbal kepada Ardi.
            “Sudah dong,” jawab Ardi.
            Lalu, suasana pun kembali hening, tidak terasa, mereka sudah berhadapan dengan  sekolah yang sedang dibicarakan warga. Di saat akan lewat, tiba-tiba Rifqi mengajak Iqbal dan Ardi untuk melewati jalan lain karena dia takut melewati sekolah tua itu. Namun, Iqbal dan Ardi menolak mengambil jalan lain karena, jika lewat jalan lain, berarti mereka harus memutar, dan jaraknya pasti lebih jauh untuk sampai ke rumah, lalu dengan terpaksa, akhirnya Rifqi menurut saja, dan mereka pun melewati sekolah tua tersebut.
            Ketika mereka sedang berjalan, tiba-tiba di dekat gerbang sekolah tua itu ada yang bergerak. Kemudian…
            “Aaaah!!,” teriak Rifqi, serentak Iqbal dan Ardi terkejut.
            “Ada apa, Qi?!,”  kata Ardi.
            “Itu, itu ada yang gerak-gerak berwarna hitam, cepat sekali,” kata Rifqi masih ketakutan.
            “Di sebelah mana?,” sahut Iqbal.
            Makhluk yang dilihat Rifqi berada di dekat gerbang sekolah tua tersebut, lalu, Ardi pun memberanikan diri mendekati makhluk itu untuk memeriksanya. Dan ternyata, makhuk yang dilihat Rifqi tadi hanyalah seekor kucing.
            “Hah? Ini kan kucing milik Beni, kenapa bisa ada di sini?,” kata Ardi.
            Ternyata, kucing tersebut milik Beni, teman sekelas Iqbal, Ardi, dan Rifqi, Beni pernah menceritakan bahwa kucingnya selalu bersama Beni jika sedang berada di luar rumah karena kucingnya takut keluar rumah sendiri, tetapi, mengapa saat ini kucing Beni sendirian?, pertanyaan itulah yang ada di benak Iqbal, Ardi, dan Rifqi.
            “Kalau begitu, biar aku periksa ke dalam, siapa tahu di dalam ada Beni,” kata Ardi dengan berani.
            “Sudah, jangan diperiksa, kita pulang saja, malam semakin larut, nanti orang tua kita khawatir,” kata Iqbal. Lalu, mereka pun melanjutkan perjalanan pulang.
            Matahari telah terbangun dari tidurnya, Iqbal, Ardi, dan Rifqi bersama-sama berangkat ke sekolah, mereka terlihat sangat bersemangat, sekolah mereka berhadapan dengan masjid tempat mereka biasa melakukan sholat berjama’ah, artinya, mereka melalui jalan yang sama seperti yang mereka lalui semalam dan akan melewati sekolah tua itu lagi, Ardi berjalan paling depan, saat akan melewati sekolah tua tersebut, tiba-tiba Ardi berhenti sambil matanya seperti memperhatikan sesuatu di dekat gerbang sekolah tua tersebut.
            Ternyata yang dilihat Ardi di dakat gerbang sekolah tua itu adalah sebuah sandal, tetapi mereka penasaran, milik siapa sandal itu?
            “ Biar aku periksa sandal itu,” kata Iqbal, namun, pada saat Iqbal ingin pergi memeriksa sandal itu, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Rifqi, Iqbal pun bingung mengapa tangannya ditarik oleh Rifqi, lalu Rifqi mengatakan bahwa jangan diperiksa sandal itu apalagi sampai dipegang, karena menurut Rifqi, sandal itu milik hantu yang bergentayangan di sekolah tua tersebut.  
            “Hahaha, dasar Rifqi, mana ada hantu yang pakai sandal, hantu modern tuh kalau pakai sandal segala, hahaha,” balas Iqbal sambil tertawa.
            “Huss, jangan keras-keras, nanti hantunya marah,” kata Rifqi.
            “Ah Rifqi, ada-ada saja,” kata Ardi.
            “Sudahlah, biar aku periksa sandal itu,” sahut Iqbal. Lalu Iqbal pergi mendekati sandal itu untuk memeriksanya, dan ternyata, sandal itu milik Beni, setelah itu Iqbal membawa sandal yang baru saja ia periksa dan menyerahkannya kepada kepada Ardi.
                   Rasa curiga mulai hinggap di kepala Iqbal, Ardi, dan Rifqi, semalam mereka menemukan kucing milik Beni, sekarang, mereka menemukan sandalnya, dan yang lebih aneh, mereka menemukan kucing dan sandal Beni di tempat yang sama.
            “Mungkin kucing, sandal, sekolah itu, dan si Beni ada hubunganya,?” Kata Iqbal.
            Setelah berpikir beberapa saat, mereka teringat akan sekolah, kemudian mereka pun melanjutkan perjalan ke sekolah.
            Di kelas, jam pertama adalah pelajaran Matematika, saat itu ada ulangan harian mendadak, seluruh siswa kelas 5 mengerjakan ulangan dengan sungguh-sungguh walau ada rasa keberatan dalam hati mereka, saat ulangan sedang berlangsung dengan tenang, tiba-tiba.
            “Brrakk!,” ternyata itu suara Bu Anna yang memukul meja, sontak seluruh siswa kelas 5 tersebut terkejut.
            “Beni!,” teriak Bu Anna  kepada Beni, ternyata Beni tidur saat ulangan sedang berlangsung, sontak Beni terbangun karena terkejut.
            “Ada apa, Bu?,” kata Beni.
            “Kamu, ini tidak sopan sekali!, tidur dalam kelas, berdiri di depan!,” teriak Bu Anna kepada Beni, seluruh siswa dalam kelas itu pun menjadi tegang.
            “Ayo cepat, berdiri di depan!,” kata Bu Anna penuh amarah, lalu pun Beni mengangkat tubuhnya dari kursi dan melangkahkan kakinya menuju depan kelas.
            Setelah Beni berdiri di depan kelas, Bu Anna menjelasakan kepada seluruh siswa kelas 5 bahwa , Beni merupakan contoh siswa yang tidak patut untuk ditiru, tidur di dalam kelas merupakan perbuatan yang tidak sopan, karena tidak menghormati atau menghargai guru yang berada di depan, bukan hanya tidur, jika ada yang berbicara saat guru sedang menjelasakan atau berjalan-jalan di dalam kelas, itu sama saja tidak menghormati atau menghargai guru tersebut.
            “Kalian, lanjutkan saja ulangannya,” kata Bu Anna. Suasana pun menjadi tenang kembali.
            Saat jam istirahat, Iqbal, Ardi, dan Rifqi, duduk-duduk di kursi dekat taman sekolah. Iqbal menanyakan bagaimana ulangan matematika tadi kepada Ardi, ternyata, Ardi bisa menjawab semua soal dengan lancar. Tetapi tidak demikian dengan Iqbal dan Rifqi, mereka bingung di nomor 15, lalu Ardi menawarkan kepada Iqbal dan Rifqi untuk belajar bersama sesudah Sholat Ashar, Iqbal dan Rifqi pun menyetujuinya.
            Kriiing, bel masuk berbunyi, semua siswa sekolah tersebut berbondong-bondong masuk ke kelas masing-masing, seperti kambing-kambing yang masuk ke kandangnya.
            Saat bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa sekolah itu keluar dari kelas masing-masing, tidak ketinggalan dengan Iqbal, Ardi, dan Rifqi, namun sepertinya ada yang kurang, ya, memang ada yang kurang, yaitu Beni, ia tidak terlihat saat pulang sekolah, padahal biasanya, jika bel pulang sekolah dibunyiakan, ia yang paling duluan keluar, ternyata, Beni ada di ruang guru, sepertinya, Bu Anna yang membawa Beni ke ruang guru, mungkin untuk membahas kejadian tadi, yaitu Beni tidur di dalam kelas saat ulangan sedang berlangsung.
            Di tengah perjalanan, “Qi, apa kamu merasakan hal yang aneh terhadap Beni?,” tanya Iqbal kepada Rifqi.
            “Tidak, memangnya aneh kenapa?,” jawab Rifqi.
            “Kalau dilihat-lihat, sepertinya Beni akhir-akhir ini sering mengantuk di kelas,” kata Iqbal.
            “Benar juga, dan ini menjadi semakin aneh saja, Beni mengantuk di dalam kelas artinya dia kurang tidur atau kelelahan, tapi, kata ibunya, dia jarang keluar rumah pada siang hari, jadi kapan dia keluar rumah dan beraktifitas sehingga dia menjadi kurang tidur dan kelelahan?,” tambah Ardi.
            “Mungkin malam hari,” sahut Rifqi.
            “Bisa jadi, dan sepertinya antara Beni, sandalnya, kucingnya, dan sekolah tua itu mempunyai hubungan,” tambah Ardi lagi.
            Tidak terasa  mereka telah sampai di persimpangan, dan mereka harus berpisah di sini, Ardi belok ke arah kanan, sedangkan Iqbal dan Rifqi belok ke arah kiri,
            Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Iqbal dan Rifqi pergi ke rumah Ardi untuk belajar bersama, mereka pergi bersama-sama dengan berjalan kaki, sampainya di rumah Ardi, terlebih dahulu Iqbal dan Rifqi mengucapakan salam sebelum masuk ke rumah Ardi,
            “Assallamu’alaikum,” kata Iqbal dan Rifqi bersamaan.
            “Wa’alaikumsallam, eh, temanya Ardi ya? Mari masuk, kalian sudah ditunggu Ardi di teras belakang,” kata ibu Ardi dengan penuh keramahan.
            “Oh, terima kasih bu,” kata Iqbal dan Rifqi kompak.
            Lalu Iqbal dan Rifqi pun masuk ke dalam menuju teras belakang, dan benar saja, Ardi sudah menuggu di sana. Mereka pun belajar bersama, Ardi bertindak sebagai guru yang mengajari Iqbal dan Rifqi, agak lama mereka belajar, tidak terasa, langit mulai memerah, pertanda hari sudah sangat sore, mereka pun menyudahi belajar kelompoknya.          
            Saat, matahari sudah dekat dengan kaki langit, Iqbal dan Rifqi pamit untuk pulang ke rumah. Namun sebelum Iqbal dan Rifqi pulang, Ardi mengingatkan kepada mereka untuk datang lagi ke rumah Ardi.
            Setelah itu, Iqbal dan Rifqi pun pulang ke rumah masing-masing, matahari perlahan tenggelam ditelan bumi, burung-burung pulang menuju sarangnya, serangga-serangga mulai bernyanyi, pertanda siang akan segera ditelan malam.
            Keesokan harinya, matahari baru menampakkan setengah tubuhnya, tetapi, Iqbal dan Rifqi sudah datang di rumah Ardi. Sebelum masuk ke rumah Ardi, seperti biasa, tidak lupa Iqbal dan Rifqi mengucapkan salam pada pemilik rumah, mereka pun dipersilahkan masuk, di ruang tengah, Ardi sudah menunggu Iqbal dan Rifqi, melihat kedatangan mereka, Ardi lalu mengajak Iqbal dan Rifqi untuk masuk ke kamarnya.
            “Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan kepada kami?,” kata Rifqi membuka pembicaraan.
            “Sebenarnya ini masalah sekolah tua itu, dan aku rasa sepertinya sekolah itu memang ada hubungannya dengan Beni, dari kejadian- kejadian yang kita alami beberapa waktu lalu, aku sangat yakin, bahwa sekolah itu dengan si Beni ada hubungannya, tapi aku belum bisa memuaskan dugaanku,” kata Ardi.
            “Lantas, apa yang harus kita lakukan?,” tanya Rifqi.
            Mereka pun memikirkan bagaimana caranya untuk memuaskan rasa curiga mereka, masing-masing dari mereka mulai berfikir, lalu muncul ide untuk melakukan penyelidikan terhadap sekolah tua tersebut. Namun, Rifqi menolak karena dia takut, lalu, Ardi dan Iqbal mulai membujuk Rifqi untuk ikut dalam melakukan penyelidikan, setelah dibujuk beberapa kali, akhirnya Rifqi mau ikut walaupun ada rasa keberatan dalam dirinya.
            Mereka pun mulai menyusun strategi, layaknya tentara yang siap berperang, cukup lama mereka berembuk, tidak terasa, matahari telah berada dipuncaknya, setelah semuanya setuju akan rencana yang dibuat, Iqbal dan Rifqi pun pamit untuk pulang.
            Dan pada malam yang sudah ditentukan, Iqbal, Ardi, dan Rifqi sudah berkumpul di depan sekolah tua tersebut, masing-masing dari mereka sudah membawa barang-barang yang sudah disepakati. Mereka pun mulai memasuki halaman sekolah angker itu, tidak terlihat keanehan apa-apa di halaman sekolah, lalu mereka mulai masuk ke dalam ruang sekolah, pada saat pintu sudah terbuka, tiba-tiba.
            “Aaaah, haaantuuuuuu,” teriak Iqbal, Ardi, dan Rifqi bersamaan.
            Ternyata tepat di depan pintu yang mereka buka terdapat pocong bergelantungan. Iqbal dan Rifqi langsung berlari menuju halaman sekolah meninggalkan Ardi yang terjatuh tepat di hadapan pocong yang bergelantungan tersebut, namun ternyata, Ardi bisa berdiri dengan tenang, bahkan dia memegang pocong yang bergelantungan tersebut, dan, pocong yang membuat mereka takut tadi ternyata hanya sebuah boneka. Lalu Ardi memanggil Iqbal dan Rifqi yang sudah berada di halaman sekolah karena ketekutan.
                   Iqbal dan Rifqi pun mendekat ke Ardi, ternyata memang benar, pocong yang bergelantungan tersebut ternyta hanya sebuah boneka, Ardi pun mengambil foto boneka itu menggunakan kamera digital yang ia bawa, setelah itu, mereka melanjutkan masuk ke dalam, tetapi, saat mereka sudah berada tepat di tengah-tengah ruangan, tiba-tiba terdengar suara menyerupai hantu.
            “Hantu, Di,” kata Rifqi merinding sambil mencengkaram kuat bahu Ardi.    
          “Diam, kamu dengarakan baik-baik suara itu, seperti suara rekaman,” kata Ardi dengan tenang.
            “Benar, Di, aku juga merasakan hal yang sama,” ujar Iqbal.
            Lalu suara itu tidak terdengar lagi, mereka pun melanjutkan penyelidikan, mereka naik ke lantai dua, di sana, Rifqi menemukan jejak kaki yang masih baru mengarah ke sebuah ruangan, di sudut ruangan, Ardi juga menemukan empat buah boneka berwujud hantu, tidak ketinggalan dengan Iqbal, dia mendengar suara tawa anak-anak di ruangan tempat berakhirnya jejak kaki yang ditemukan oleh Rifqi.
            “Di, aku menemukan jejak kaki yang mengarah ke sebuah ruangan,” kata Rifqi pada Ardi.
            “Aku juga mendengar suara tawa anak-anak yang sepertinya itu suara Beni dan anak-anak lain, suara itu berasal dari tempat berakhirnya jejak kaki yang ditemukan oleh Rifqi,” kata Iqbal menambahi.
            “Melihat semua benda-benda yang kita temukan, dugaan semakin kuat bahwa Beni dibalik semua ini,” kata Ardi berapi-api.
            “Baiklah, daripada penasaran, kita dobrak saja pintu ruangan yang menjadi sumber suara tawa itu,” kata Rifqi.
                   Lalu, Brak!!, pintu pun terbuka, disana terdapat Beni dengan anak-anak lain, sontak Beni pun terkejut dan ingin melarikan diri, namun sayang, Ardi telah lebih dahulu mengambil foto wajahnya untuk dijadikan barang bukti, sedangkan anak-anak yang lain dibiarkan lari, Iqbal, Ardi, dan Rifqi pun keluar sekolah itu dengan sangat lega.
            Keesokan harinya, Iqbal, Ardi, dan Rifqi pergi mendatangi Kantor Kelurahan, mereka bermaksud melaporkan kejadian yang sebenarnya terjadi tentang sekolah itu, tidak lupa mereka membawa beberapa barang bukti, Orang Tua Beni dan Beni pun dipanggil ke Kantor Kelurahan untuk mendapat peringatan dan hukuman karena telah meresahkan banyak warga dan telah menyebarkan berita yang tidak benar tentang sekolah tua itu, dan besoknya, Iqbal, Ardi, dan Rifqi mendapat hadiah yang cukup besar dari Kelurahan karena telah menguak misteri tentang sekolah tua tersebut, akhirnya, seluruh warga di desa tersebut hidup dengan aman karena misteri tentang sekolah tua itu akhirnya sudah terbongkar dan mereka juga lega karena dugaan mereka tentang arwah yang bergentayangan di sekolah itu ternyata tidak benar.